Batu Menangis
Darmi memang bukan anak orang kaya. Ibunya hanya seorang janda miskin.
Untuk menghidupi mereka berdua, ibunya bekerja membanting tulang dari pagi
hingga malam. Pekerjaan apapun dia lakukan. Mencari kayu bakar di hutan,
menyabit rumput untuk pakan kambing tetangga, mencucikan baju orang lain,
apapun dia kerjakan untuk bisa memperoleh upah. Sebaliknya Darmi adalah anak
yang manja. Sedikit pun dia tidak iba melihat ibunya bekerja keras sepanjang
hari. Bahkan dengan teganya dia memaksa ibunya untuk memberinya uang jika ada
sesuatu yang ingin dibelinya.
“Ibu, ayo berikan uang padaku! Besok akan ada pesta di desa sebelah, aku harus
pergi dengan memakai baju baru. Bajuku sudah usang semua,” katanya.
“Nak, kemarin kan kau baru beli baju baru. Pakailah yang itu saja. Lagipula
uang ibu hanya cukup untuk makan kita dua hari. Nanti kalau kau pakai untuk
membeli baju, kita tidak bisa makan nak!” kata ibunya mengiba.
“Alah itu kan urusan ibu buat cari uang lagi. Baju yang kemarin itu kan sudah
aku pakai, malu dong pakai baju yang itu-itu lagi. Nanti apa kata orang!
Sudahlah ayo berikan uangnya sekarang!” kata Darmi dengan kasar.
Terpaksa sang ibu memberikan uang yang diminta anaknya itu. Dia memang sangat
sayang pada anak semata wayangnya itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar